bayi-tidur_20150318_210100

 

Sahabat Les Privat Sidoarjo kita akan membahas anak yang Sudah Sekolah TK tetapiĀ  Masih Ngompol, kira-kira apa penyebabnya ya?

Saat duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK), idealnya si kecil sudah tak lagi mengompol.

Secara statistik, 15 dari 100 anak balita yang mengompol, berhenti sendiri secara alami tanpa bantuan terapi atau obat apa pun.

Pada umur 2 tahun, umumnya anak-anak sudah tidak mengompol di kala tidur siang hari, tetapi terkadang masih mengompol di malam hari.

Pada umur 3 tahun, 3 dari 4 anak sudah tidak mengompol pada malam hari. Karena itulah bila anak 4-5 tahun mengompol lebih dari satu kali dalam seminggu sudah dianggap tidak wajar (abnormal).

Secara sederhana, anak yang mengompol dibagi dalam 2 kelompok, yaitu enuresis primer dan sekunder.

Sebanyak 75-90 persen anak mengalami enuresis primer, yakni mereka sejak awal memang selalu ngompol dan belum pernah “kering”.

Sedangkan anak yang sudah pernah “kering” selama minimal 6 bulan, kemudian mengompol lagi, kelompok inila yang disebut enuresis sekunder.

Penyebab pasti mengompol tidak diketahui, tetapi beberapa faktor yang diduga adalah:

Bawaan: Sekitar 50 persen kasus anak mengompol ditemukan riwayat keluarga.

Apabila satu orangtua pernah menderita enuresis, anak mempunyai risiko sebesar 44 persen untuk mengalami hal yang sama.

Apabila kedua orangtuanya menderita enuresis, risiko meningkat menjadi 77 persen.

Tidur lelap: Ketidakmampuan bangun di malam hari untuk buang air kecil karena beberapa anak-anak tidur sangat lelap.

Pengembangan tertunda: Beberapa anak berkembang lebih lamban untuk mencapai perasaan kering pada malam hari tetapi pada akhirnya akan dapat mengatasi masalah sejalan dengan usia.

Masalah regulasi hormon: Anak-anak yang mengompol mungkin memiliki tingkat hormon lebih rendah yang disebut hormon antidiuretik.

Hormon ini menekan produksi urine selama tidur. Ini berarti penderita menghasilkan urine lebih dari jumlah normal selama tidur dan dikeluarkan dengan cara mengompol.

– Keterlambatan dalam pematangan dan perkembangan kandung kemih yang disebabkan kelainan genetik autosomal dominan yang terletak pada kromosom 12 dan 13. (*)

Sumber: TRIBUNNEWS.COM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *